Jurit (Jalan-jalan tengah malam) itu biasanya jadi agenda paling seru waktu LDKS atau Ospek.
Ngelihat setan udah biasa waktu acara ini berlangsung, tapi masalahnya
gimana cara bedain itu setan beneran atau bukan? Ini dia ane kasih tau
Senin, 09 April 2012
Sekilas Tentang Psikopat
Jika ketika Anda mendengar kata Psikopat, maka apakah yang terlintas di dalam benak Anda? Jika yang terlintas dalam benak Anda adalah sosok pembunuh berdarah dingin maka cepat-cepatlah buang pemikiran itu jauh-jauh sekarang, mungkin ada benarnya, namun ternyata belum tentu psikopat adalah seorang pembunuh.
Psikopat dalam ilmu psikologi merupakan bentuk gangguan kepribadian, dimana penderita bertendensi narsistis dan juga antisosial. Seorang psikopat tidak pernah mengakui atau merasakan bahwa dirinya sakit atau memiliki gangguan, mereka memiliki kepercayaan diri berlebih (narsistis) sehingga mampu mempengaruhi orang lain, tidak merasa bersalah atau menyesal atas setiap tindakannya karena memiliki rasionalisasi pembenaran terhadap perilakunya.
Korban-korban mereka juga bukanlah orang yang cenderung bodoh, dalam buku without conscience, Robert Hare, seorang yang mengabdikan sebagian hidupnya untuk studi tentang psikopat, menyebutkan bahwa dirinya yang merupakan seorang psikolog pernah menjadi korban dari teror seorang psikopat saat dirinya sedang bertugas sebagai psikolog di penjara. Hal tersebut dilakukan oleh seorang napi yang menjadi pasiennya.
Kemampuan psikopat dalam memanipulasi korban cenderung sangat lihai dan sulit untuk terdeteksi. Memang ada banyak psikopat yang sudah ditangkap dengan berbagai macam kasus mulai dari pembunuhan, penipuan, pemerkosaan, penganiayaan, pencurian, kekerasan, dan berbagai bentuk tindak antisosial lainnya, namun diluar sana ternyata 80% psikopat masih beredar bebas dan hidup disekitar kita (sumber: without conscience- Robert Hare).
Para psikopat memang sulit untuk diperkirakan dan juga tidak mudah untuk ditebak tindak-tanduknya, berbeda dengan jenis penyakit kejiwaan lain seperti skizofrenia yang cenderung terlihat dengan jelas ciri-cirinya pada seorang penderita seperti menarik diri dari lingkungan sosial, mengalami waham, halusinasi. Sedangkan para psikopat, mereka terlihat baik dan normal sehingga mereka dapat diterima oleh masyarakat bahkan hingga dilapisan tingkat sosial yang paling tinggi sekalipun seperti menduduki suatu jabatan penting dalam pemerintahan.
Dalam sebuah Surat kabar online (Tempo Interactive : Psikopat disebabkan Masalah Psikososial dan Biologis) menyebutkan bahwa psikopat disebabkan oleh masalah psikososial dan biologis. Dalam artikel tersebut seorang psikiater, Dr. Limas Sutanto, mengatakan bahwa psikopat merupakan gejala seseorang yang mengalami gangguan kepribadian antisosial. Hal ini ditandai dengan adanya keengganan untuk mentaati norma-norma sosial umum yang biasanya ditaati orang dewasa ditengah kehidupan sehari-hari. Penyebab gangguan ada dua yaitu psikososial dan biologis.
Faktor psikososial diantaranya berbentuk rasa takut seseorang untuk menjalin hubungan yang dekat dengan sesama manusia yang berakibat munculnya perasaan cemas, takut dan khawatir secara berlebihan. Sedangkan dari faktor biologis terjadi karena adanya perubahan pada psikis kimiawi tubuh yang disebabkan oleh ketakutan, rasa cemas, frustasi, pada seseorang. Rasa cemas itu muncul karenanya ada kegagalan dalam struktur kepibadian yang bernama super-ego, katanya.
Namun pendapat bahwa psikopat ditentukan oleh dua faktor yang saling menunjang kurang disetujui oleh Robert Hare, dimana didalam buku without conscience beliau mengatakan bahwa penyebab dari kemunculan psikopat masih belum bisa diprediksi secara pasti, apakah hal tersebut merupakan pengaruh dari faktor eksternal (kehidupan sosial, lingkungan) ataukah faktor internal (genetik, kerusakan fungsi otak), mungkin juga campuran dari keduanya. Walau kini sudah banyak ahli yang menyetujui (dengan pengamatan yang mendalam tentunya) bahwa faktor eksternal dan internal saling mempengaruhi dalam menjadi penyebab munculnya pribadi psikopat.
Wajar jika seseorang khilaf, melakukan kesalahan dan pelanggaran, lalu setelah itu insyaf, menyadari kesalahannya dan menyesal. Tetapi didalam diri seorang psikopat selalu ditemui khilaf saja tanpa pernah insyaf. Mereka selalu kambuh untuk melakukan kesalahan yang sama dan diulang-ulang tanpa pernah belajar dari apa yang pernah mereka alami. Sebagai contoh kebanyakan dari para residivis kambuhan merupakan individu dengan kepribadian psikopat karena mereka tidak pernah kapok ditangkap serta keluar-masuk penjara.
Psikopat bersikap manipulatif serta penuh dengan daya pikat. Hal ini ditunjang oleh kemampuan mereka dalam menemukan titik lemah dalam kepribadian korbannya, yang dengannya mereka dapat memanipulasi korbannya agar dapat diperlakukan sesuai dengan kehendak mereka. Mereka tidak memiliki empati, buta secara emosi dan hanya mengandalkan pikiran murni. Mereka cacat secara moral, cacat karena tidak memiliki mata hati dan kepekaan dalam emosi.
Dalam hal emosi seorang psikopat diibaratkan seperti manusia yang buta warna sedang mengendarai mobil dijalan dan kemudian bertemu dengan lampu merah, mungkin ia mampu mengetahui dimana letak lampu hijau, kuning atau merah walaupun ia tidak mengetahui apa warnanya. Letak lampu untuk mewakili pikiran dan warna lampu mewakili emosi, dengan kata lain mereka adalah pribadi yang tidak mampu merasakan penderitaan orang lain yang menjadi korbannya. Mereka tidak bisa mencerna nada emosi dalam suatu pembicaraan, sehingga setiap kata apa yang mereka dengar selalu serupa dengan artian kamus yang dangkal.
Seseorang psikopat cenderung sangat sulit untuk bisa disembuhkan bahkan beberapa ahli mengatakan bahwa hal itu adalah mustahil untuk bisa dilakukan. Walaupun ada yang pernah memberikan terapi kelompok dalam menyelesaikan masalah ini, ternyata hal tersebut dapat dikatakan sia-sia, bahkan membuat mereka menjadi semakin berbahaya dikarenakan mereka mempelajari trik-trik baru dalam bersosial melalui terapi kelompok yang diberikan.
Yang menjadi kekuatan psikopat terhadap korbannya adalah dengan memanfaatkan kelemahan-kelemahan, entah itu rasa percaya diri, harga diri, dan juga kelemahan-kelemahan lain yang terdapat dalam diri korban, mereka memanfaatkannya untuk dapat mengendalikan korban secara fisik dan mental, sehingga korban merasa hancur dan putus asa dalam menjalani kehidupannya tanpa disadari.
Cara yang terbaik untuk mensikapi hal ini adalah dengan pengenalan diri yang baik pada diri calon korban, ketika seseorang mengetahui apa saja titik lemah yang ada dalam kepribadiannya maka ia dapat mewaspadai setiap usaha psikopat untuk mengambil keuntungan darinya. Mungkin mereka datang dengan berbagai macam cara yang telah mereka manipulasi dan palsukan, namun jika seseorang lebih mengenal siapa dirinya dan ditunjang dengan kekuatan mental yang baik maka para psikopat tidak memiliki kesempatan untuk melakukan kejahatan terhadap sang calon korban. Tetaplah waspada!Vcar. Sumber: Ruang Psikologi Zine.
Kamis, 29 Maret 2012
Soktatology
Secara etimologi, Soktatology terdiri dari pencampuran dua bahasa. "Sokta", dalam bahasa pergaulan masyarakat merupakan blend word yang
diadopsi dari bahasa Indonesia, "sok tau". "logy" berasal dari bahasa
Yunani "logos" yang berarti ilmu. Jadi, "Soktatology" merupakan cabang
ilmu yang mempelajari dan menggunakan rasa "sok tau" ini dalam
menyelesaikan dan menjawab pertanyaan yang muncul. Setara dengan ilmu
ini, yaitu "Somengtology", merupakan ilmu yang diaplikasikan dengan cara
"sok mengerti" dengan segala masalah yang ada sehingga dengan begitu
dapat terhindar dengan segera dari masalah selanjutnya.
Soktatology merupakan sebuah seni
(jika bisa dikatakan) ilmu yang secara sadar atau tidak telah berkembang
ditengah masyarakat. Tidak diketahui dengan pasti kapan sebenarnya ilmu
baru ini lahir dan berkembang di masyarakat, sehingga menjadi trend
baru dalam penyelesaian masalah. Contohnya adalah pada kalangan
mahasiswa yang dalam hal ini sebagai pengguna serta memanfaatkan ilmu
Soktatology ini.
Penggunaan Soktatology ini dapat
dikategorikan berdasarkan beberapa tingkat. Pada tingkat yang paling
rendah misalnya "sok tau" dalam menjawab masalah/pertanyaan yang
diungkapkan dalam pergaulan sehari-hari. Tingkat selanjutnya adalah
taraf Medium. Pada taraf ini, rasa "sok tau" sudah mulai mengakar.
Biasanya di aplikasikan dalam menjawab pertanyaan seputar isu-isu
nasional maupun global. Taraf tertinggi pada penggunaan ilmu ini adalah
taraf Super. Dikatakan demikian adalah jika ilmu Soktatology ini
kemudian dibenturkan atau diperhadapkan dengan masalah dalam bidang ilmu
lain yang lebih "senior", sebutlah Sastra, Kimia, Fisika, Teknik, dll.
Penggunaan Soktatology ini digunakan jika tidak didapatkan alasan yang
lebih masuk akal dalam menyelesaikan masalah.
Memang, belum ada statistik yang resmi (pasti) dalam persentase penggunaan Soktatology dalam hal penyelasaian masalah. Hal ini juga tentunya ditentukan oleh tingkat pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang. Meskipun hal itu bukanlah juga indikator tunggal mengapa Soktatology berkembang di masyarakat. Karena pada dasarnya manusia tidaklah mampu menguasai segalanya. Jadi, apakah anda termasuk penganut paham Soktatology dalam menyelesaikan masalah? Anda tahu sendiri jawabannya. Sebaiknya anda cari tahu sebelum anda sendiri SOTTA!
Senin, 03 Oktober 2011
4 Jenis karakter manusia
4 Macam Kepribadian Manusia
Pada dasarnya manusia memiliki empat watak utama. Penemuan ini ditemukan pertama kali oleh Hippocrates pada 400 tahun SM. Sampai sekarang, keempat watak ini tetap menjadi acuan pemahaman karakter manusia.Temukan jenis-jenis keempat kepribadiaan tersebut:
1. Sanguinis
Kepribadian ini menggambarkan seseorang yang memiliki karakter yang lincah, extrovert, periang, mudah berganti haluan, bisa meramaikan suasana, suka berbicara, memiliki rasa humor yang tinggi, mudah diubah, berhati tulus, penuh semangat, selalu kekanak-kanakan, memiliki energi serta antusiasme, kreatif dan inovatif, suka kegiatan spontan.
2. Koleris
Kepribadian ini menggambarkan seseorang yang memiliki karakter yang percaya diri, dinamis dan aktif, berbakat memimpin, extrovert, optimis, berani mengambil resiko besar sekalipun, hatinya mudah terbakar, selalu unggul dalam keadaan darurat, selalu merasa benar, susah menerima pendapat orang, disiplin, tepat waktu.
3. Melankolis
Kepribadian ini menggambarkan seseorang yang memiliki karakter seseorang yang penuh pikiran, cenderung pemurung, pendiam, introvert, pesimis, perfeksionis, berorientasi jadwal, standar tinggi, sadar perincian, gigih dan cermat, tertib dan terorganisasi, teratur dan rapi, ekonomis, melihat masalah. mendapat pemecahan kreatif, perlu menyelesaikan apa yang dimulai, Suka diagram, grafik, bagan, daftar.
4. Phlegmatis
Kepribadian ini menggambarkan seseorang yang memiliki karakter yang rendah hati, mudah bergaul dan santai, diam, tenang, dan mampu, sabar, baik keseimbangannya, hidup konsisten, tenang tetapi cerdas, simpatik dan baik hati menyembunyikan emosi, bahagia menerima kehidupan, serba guna, mudah diajak bergaul, menyenangkan, tidak suka menyinggung, pendengar yang baik, selera humor yang menggigit, suka mengawasi orang, punya banyak teman, punya belas kasihan dan perhatian.
Inilah karakter-karakter dasar yang ditemukan oleh Hippocrates sejak tahun 400 SM. Melalui artikel ini semoga Anda dapat lebih memahami sifat, karakter atau pribadi Anda sendiri maupun karakter-karakter yang dimiliki oleh teman, kekasih, orangtua, pemimpin, dll.
Dengan demikian Anda dapat mengetahui bagaimana Anda harus bersikap serta beradaptasi dengan orang-orang yang memiliki berbagai macam kepribadian.
Langganan:
Postingan (Atom)

